C W C U

UK Cipta Wacana Perkuat UMKM Pengen Kopi melalui Biologi Pangan dan Manajemen Usaha

  • Home
  • Detail Berita
UK Cipta Wacana Perkuat UMKM Pengen Kopi melalui Biologi Pangan dan Manajemen Usaha

UK Cipta Wacana Perkuat UMKM Pengen Kopi melalui Biologi Pangan dan Manajemen Usaha

Pendampingan diarahkan pada standardisasi produksi, higienitas pangan, pembukuan digital, dan penguatan pengelolaan usaha kopi rumahan di Kota Malang.

MALANG – Keberlanjutan usaha minuman kopi skala rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang diminati konsumen. Kualitas bahan baku, kebersihan proses produksi, konsistensi penyajian, pencatatan keuangan, hingga kemampuan pelaku usaha membaca arus kas menjadi bagian penting agar UMKM mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen Universitas Kristen Cipta Wacana melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat pada Minggu, 2 Agustus 2026, dengan mitra UMKM Pengen Kopi di kawasan Perumahan Bulan Terang Utama, Kota Malang.

Kegiatan bertajuk “Pendampingan UMKM Minuman Kopi Kekinian melalui Integrasi Prinsip Biologi Pangan dan Manajemen Usaha untuk Meningkatkan Mutu Produk dan Daya Saing Penjual di Kota Malang” tersebut mengintegrasikan keilmuan biologi pangan, manajemen usaha, dan penerapan teknologi sederhana untuk membantu menjawab persoalan riil yang dihadapi mitra.

Pengen Kopi merupakan industri rumah tangga yang dipimpin oleh Uswatun Hasanah dan mengembangkan berbagai produk kopi maupun nonkopi. Produk yang ditawarkan antara lain americano, kopi strong, kopi creamy, kopi aren, matcha latte, pure matcha, matcha presso, chocolate djadoel, serta choco presso. Pengen Kopi juga memiliki produk khas berupa kopi kantong, yaitu minuman kopi siap konsumsi dalam kemasan botol praktis, serta kopi bubuk robusta berbahan baku lokal dari Dampit, Kabupaten Malang.

Ketua tim pengabdian, Novie Ary Priyanti, menjelaskan bahwa pendampingan dirancang berdasarkan permasalahan yang ditemukan pada sisi hulu hingga hilir usaha. Pada aspek produksi, perhatian diberikan pada cara penyimpanan bahan baku, konsistensi proses pengolahan, serta penerapan higienitas dan sanitasi.

“UMKM pangan membutuhkan proses yang sederhana tetapi terstandar. Bahan baku yang baik perlu disimpan dengan benar, proses produksi perlu konsisten, dan kebersihan harus menjadi bagian dari kebiasaan kerja sehari-hari. Prinsip biologi pangan kami terjemahkan menjadi langkah-langkah yang mudah diterapkan oleh mitra,” ujar Novie.

Pendampingan produksi dilakukan melalui edukasi mengenai penyimpanan bahan baku kopi, pengendalian paparan udara dan kelembapan, kebersihan peralatan, sanitasi lingkungan produksi, serta penyusunan prosedur kerja yang dapat digunakan sebagai acuan dalam kegiatan produksi sehari-hari.

Penerapan prosedur tersebut diharapkan membantu Pengen Kopi menjaga konsistensi mutu produk sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap keamanan pangan, khususnya pada minuman yang langsung dikonsumsi oleh pelanggan.

Selain aspek produksi, tim juga melakukan pendampingan pada manajemen usaha. Anggota tim dari bidang Manajemen, Khalilah Daud Isaac Mahkmut, memberikan penguatan mengenai pencatatan pemasukan dan pengeluaran, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta pentingnya pengelolaan arus kas.

Menurut Khalilah, pembukuan sederhana merupakan salah satu fondasi penting bagi usaha mikro.

“Pelaku usaha perlu mengetahui berapa pendapatan yang masuk, biaya yang dikeluarkan, serta posisi arus kas usahanya. Dengan pencatatan yang tertib, keputusan pembelian bahan baku, penentuan harga, dan pengembangan usaha dapat dilakukan berdasarkan data, bukan hanya perkiraan,” jelasnya.

Pendampingan tersebut diperkuat melalui penggunaan pembukuan digital sederhana yang dirancang agar mudah digunakan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Sistem tersebut membantu mitra mencatat transaksi penjualan, pengeluaran, pembelian bahan baku, serta menyusun rekapitulasi keuangan secara lebih teratur.

Anggota tim dari bidang Teknik Mesin, Novan Habiburrahman, mendukung penerapan teknologi sederhana dan penyesuaian alur kerja digital agar sistem pencatatan mudah dioperasikan oleh mitra.

“Teknologi yang diterapkan tidak harus kompleks. Prinsipnya adalah tepat guna, mudah dipahami, sesuai kapasitas mitra, dan benar-benar digunakan setelah kegiatan pengabdian selesai,” katanya.

Di sisi pemasaran, Pengen Kopi juga diarahkan untuk memperkuat identitas produk dan pemanfaatan kanal digital. Penggunaan media seperti WhatsApp Business dapat membantu mitra menampilkan katalog produk, informasi harga, serta memperluas komunikasi dengan konsumen tanpa menambah biaya operasional yang besar.

Kegiatan pengabdian turut melibatkan mahasiswa Universitas Kristen Cipta Wacana, yakni Nur Atika Ayuni dari Pendidikan Biologi dan Rama Wahid dari Manajemen. Keterlibatan mahasiswa diarahkan pada observasi proses produksi, pendampingan penerapan higienitas, dokumentasi, pencatatan data usaha, dan dukungan penggunaan pembukuan digital.

Bagi tim pengabdian, keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam menghubungkan pembelajaran akademik dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Pemilik Pengen Kopi, Uswatun Hasanah, menyambut positif pendampingan yang diberikan karena program tidak hanya membahas produk, tetapi juga tata kelola usaha secara menyeluruh.

“Kami menjadi lebih memahami bahwa kualitas usaha bukan hanya soal rasa produk. Penyimpanan bahan, kebersihan, pencatatan keuangan, dan pengelolaan usaha juga harus diperhatikan agar usaha bisa berkembang dengan lebih baik,” ungkap Uswatun.

Program ini dirancang tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Setelah tahap sosialisasi dan pelatihan, tim melanjutkan pendampingan, pemantauan penerapan SOP, evaluasi penggunaan pembukuan digital, serta penguatan kemandirian mitra dalam menjalankan sistem yang telah diperkenalkan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat pemberdayaan masyarakat produktif secara ekonomi, yaitu menempatkan mitra bukan sebagai penerima bantuan semata, tetapi sebagai pelaku utama yang terlibat sejak identifikasi masalah, penerapan solusi, hingga evaluasi program.

Kegiatan juga memiliki keterkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Penguatan proses produksi, tata kelola usaha, dan pemanfaatan bahan baku lokal diharapkan dapat meningkatkan kapasitas UMKM sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat dari tingkat rumah tangga.

Novie menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pengabdian tidak berhenti pada terlaksananya kegiatan.

“Yang terpenting adalah apakah solusi yang diberikan dapat digunakan secara konsisten oleh mitra. Kami berharap Pengen Kopi semakin mampu menjaga mutu produknya, mengelola keuangan dengan lebih tertib, dan mengembangkan usahanya secara mandiri,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, Universitas Kristen Cipta Wacana memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan secara nyata. Integrasi biologi pangan, manajemen usaha, dan teknologi sederhana diharapkan menjadi model pendampingan UMKM yang praktis, terukur, dan dapat direplikasi pada usaha sejenis di masyarakat.